{"id":1948,"date":"2025-04-28T14:44:38","date_gmt":"2025-04-28T07:44:38","guid":{"rendered":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/?p=1948"},"modified":"2025-04-28T15:04:48","modified_gmt":"2025-04-28T08:04:48","slug":"selongsong-peluru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/?p=1948","title":{"rendered":"Selongsong Peluru"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"1948\" class=\"elementor elementor-1948\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-db3ba07 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"db3ba07\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-c7d836d\" data-id=\"c7d836d\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-a8b7481 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"a8b7481\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><strong>Desain: Diah Nuril Rahmawati<\/strong><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-fdbc770 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"fdbc770\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-dbec071\" data-id=\"dbec071\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-ced22c6 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"ced22c6\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h1><strong>Selongsong Peluru<\/strong><\/h1>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-7ec066d elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"7ec066d\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-b4fbe8c\" data-id=\"b4fbe8c\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-48c48e5 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"48c48e5\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><strong>Karya: Fellysa Rahma Naturafika<\/strong><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-8ae2067 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"8ae2067\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-f1e149d\" data-id=\"f1e149d\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-e030565 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"e030565\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Siang ini cahaya mentari begitu terik. Dengungan kendaraan mendominasi hiruk-pikuk kota. Khinanti berjalan terseok-seok menyusuri gang kecil dengan nampan plastik berisi beberapa sisa gorengan hasil jualannya di sekolah tadi, serta tas berisi tiga buku paket yang cukup berat.<\/p>\n<p>&#8220;Huh! Jika bukan karena Emak yang menyuruhku, pasti aku tidak akan mau membawa barang seberat ini, &#8221; ocehnya sambil memandangi sisa gorengan dengan sendu.<\/p>\n<p>Di sinilah Khinanti, berdiri di depan pintu memandangi Emak yang tengah menggoreng gorengan di atas tungku dengan peluh yang bercucuran karena panas api yang langsung menerpa wajahnya. Di sudut sana, sosok rapuh tengah terbujur lemah, kakinya tak lagi kuat untuk berpijak. Meski begitu, senyum tak pernah luntur dari wajah keriputnya kala melihat cucunya yang sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah cemberut.<\/p>\n<p>&gt;&gt;&lt;&lt;\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Isinya? Isinya ya semacam bahan peledak seperti bubuk mesiu. Apalagi ya?&#8221; Bola mata Kakek menghadap ke atas menandakan ia sedang berpikir. Tawa keras pecah kala dirinya melihat ekspresi cucunya begitu serius mendengarkan penjelasannya, menampakkan giginya yang telah tanggal semua.<\/p>\n<p>&#8220;Tapi kenapa Kakek menyimpan benda ini? Sudah jelek, karatan pula. Kenapa tidak dibuang saja?&#8221; tanya Khinanti menunjuk selongsong peluru yang tengah Kakek pegang.<\/p>\n<p>&#8220;Nduk, nduk, kamu itu masih kecil, masih ingusan. Nggak bakal paham kalau Kakek cerita tentang sejarah selongsong ini,&#8221; ucapan Kakek yang mengundang tatapan merajuk dari Khinanti.<\/p>\n<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum, Nduk! Khinanti sudah makan? Ini ada sisa gorengan, cepat makan nanti cacingan.&#8221; Suara Emak menggema di seluruh penjuru rumah reot itu, lebih mementingkan perut Khinanti daripada tubuhnya sendiri yang tenaganya sudah terkuras habis karena berkeliling desa dari siang hingga menjelang Magrib.<\/p>\n<p>&#8220;Nanti, Mak!&#8221; Dengan cepat Khinanti memasukan selongsong berkarat itu ke dalam kantung usang milik sang Kakek kemudian menyimpannya ke dalam lemari yang sudah lapuk, karena takut mendapat omelan Emak sebab bermain dengan benda berbahaya.<\/p>\n<p>Meski sudah kadaluwarsa Emak sangat paham bahan amunisi itu masih bisa meledak. Berkali-kali Emak memarahi Kakek dan berusaha mengamankan benda itu, tetapi semua usaha Emak gagal. Kakek selalu menangis kala mendapati benda itu hilang, sebab ribuan kenangan kelam tersimpan rapi di dalamnya.<\/p>\n<p>Selongsong peluru yang Kakek curi dari kantung kain milik prajurit ketika masa Orde Baru, kala prajurit itu tengah membidik kawannya yang sedang memberontak menjadikan prajurit itu lengah terhadap satu selongsong peluru yang masih tersisa.<\/p>\n<p>&#8220;Kami perwakilan rakyat!&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Kami menyuarakan suara rakyat!&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Di mana keadilan!&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Krisis dimana-mana!&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Dor!!&#8221;<\/p>\n<p>Satu tembakan melesat, membuat suara riuh itu menjadi hening seketika. Seakan terbungkam oleh peristiwa bersimbah darah di depan mata. Dengan gemetar, Kakek segera bersembunyi di balik gerobak sampah, menenangkan jantungnya yang berdegup dua kali lipat kala melihat kepala kawannya pecah terkena tembakan, sembari memegang erat kantung peluru dengan rahang mengeras.<\/p>\n<p>&#8220;Makan, Nduk,&#8221; ucap Kakek dihadiahi gelengan malas dari Khinanti.<\/p>\n<p>&#8220;Khinanti lebih senang mendengar cerita Kakek daripada harus makan tempe dingin sisa jualan Emak.&#8221; Kakek tersenyum sendu.<\/p>\n<p>&#8220;Makan, Nduk, Dulu mau makan saja tidak tenang. Sekarang kamu enak, masih ada lauk tempe sama sambel di meja. Sekalian ambil buat Kakek.&#8221;<\/p>\n<p>&gt;&gt;&lt;&lt;\u00a0<\/p>\n<p>Rintik hujan di luar menyadarkan Khinanti dari lamunannya. Sesaat setelahnya, ia menyadari tengah menggenggam kantung selongsong dengan air mata yang menggenang. Aroma obat di ruangannya mengingatkannya pada raga rapuh yang harus menahan rasa sakit kala obat pereda nyeri miliknya telah habis dengan ringisan gigi tanggalnya.<\/p>\n<p>Dada Khinanti menjadi sesak saat mengingat Kakeknya terbujur kaku dengan seulas senyuman terakhir untuk Khinanti malam itu, setelah Kakek menyuruhnya makan. Jika mengetahui itu adalah waktu terakhir Kakek, dia tidak akan sudi berlari ke dapur dan meninggalkannya. Sempat Khinanti berpikir, bagaimana dunia harus berputar tanpa Kakek yang selalu menyambut kedatangannya dengan senyuman lemah itu.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerpen ini mengisahkan Khinanti, seorang gadis kecil yang hidup dalam kesederhanaan bersama emak dan kakeknya. Di balik kehidupan sehari-hari yang berat, tersimpan sebuah kenangan pahit dari masa lalu, sebuah selongsong peluru berkarat yang disimpan sang kakek sebagai simbol sejarah dan luka batin dari masa Orde Baru. Cerita bergulir lembut antara candaan, perjuangan, dan kehilangan, hingga akhirnya Khinanti menyadari bahwa benda tua itu menyimpan lebih dari sekadar logam tak bernyawa, ia adalah warisan kenangan dan cinta seorang kakek kepada cucunya.<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":1949,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[33,7],"tags":[26,25],"class_list":["post-1948","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen","category-sastra","tag-cerpen","tag-pers-edukasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1948","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1948"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1948\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1962,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1948\/revisions\/1962"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1949"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1948"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1948"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1948"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}