{"id":2053,"date":"2025-05-28T17:05:45","date_gmt":"2025-05-28T10:05:45","guid":{"rendered":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/?p=2053"},"modified":"2025-05-28T17:15:45","modified_gmt":"2025-05-28T10:15:45","slug":"wajah-wajah-tanpa-nama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/?p=2053","title":{"rendered":"Wajah-wajah Tanpa Nama"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"2053\" class=\"elementor elementor-2053\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-5182ade elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"5182ade\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-afe5c7c\" data-id=\"afe5c7c\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-845ca54 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"845ca54\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<h1 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">Wajah-wajah Tanpa Nama<\/h1>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-387d5a6 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"387d5a6\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-832c4e7\" data-id=\"832c4e7\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-38f832d elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"38f832d\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<h6 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">Karya : Amrika Dealita<\/h6>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-e0f3cb2 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"e0f3cb2\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-23ecf9f\" data-id=\"23ecf9f\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-53ecc6b elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"53ecc6b\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><strong>&nbsp;<\/strong><strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;<\/strong>Hujan deras menyapa pagi dengan angin dingin yang menusuk, diiringi gemuruh langit yang riuh, seperti gema dari otak yang terus dipaksa berpikir dan bekerja tanpa henti. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan, sudah saatnya untuk berangkat ke kantor. Tempat yang ramai, menyimpan kesan mengerikan, dan entah mengapa sedikit menyebalkan.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lunara Vienna Cael, akrab dipanggil Cael. Lulusan S2 Psikologi, meski sekarang bekerja sebagai <em>Compensation and Benefits Specialist.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setelah orang tuanya bercerai, hidupnya terasa begitu sepi dan hampa. Ayah yang tak lagi bekerja harus memikul beban menghidupi adik yang masih sekolah dan belum tamat SMA. Rasanya, dunia ini tidak adil untuknya. Entah mengapa, semua ini terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Beruntung, Cael masih punya teman baik seperti Leonel, Rayden, Zavira, dan Aline yang selalu hadir memberi warna dan kekuatan dihari-harinya yang berat.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hujan yang turun hari ini membuat sepatu Cael kotor. Ditambah jalanan yang macet parah, orang-orang tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Sesampainya di kantor, Cael melihat Zavira sedang membawa kopi menuju ruangannya. Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya. Siapa lagi kalau bukan Aline.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cHei, Cel! Sepatumu kotor banget, nih,\u201d katanya sambil mengeluarkan selembar kain dari tasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku tersenyum kecil. Setelah selesai, Cael kembali ke meja kerjanya. Seperti biasa, kertas-kertas menumpuk di atas meja, menunggu untuk diselesaikan.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hari berlalu seperti biasanya. Saat jam istirahat tiba, kami berlima menuju ruang santai kantor. Seperti biasa, kami makan siang bersama, ada yang beribadah, ada pula yang rebahan di sofa. Namun, hari itu terasa berbeda. Rayden, yang biasanya paling cerewet dan penuh cerita, mendadak berubah menjadi sosok yang diam dan dingin. Sejak pagi, Ia menatap layar laptopnya tanpa henti, seolah sedang menghadapi sesuatu yang berat. Bahkan, sikapnya kepada Cael yang biasanya begitu akrab pun terasa dingin, Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Akhirnya, Aline membuka suara, mencoba memecahkan suasana aneh itu.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cRay\u2026 kamu kenapa sih? Dari tadi diem banget. Tumben serius banget tuh laptop dipelototin.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Zavira ikut menoleh dengan wajah bingung.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cIya, biasanya kamu yang paling ribut. Jangan-jangan, laptop kamu kerasukan?\u201d candanya mencoba mencairkan suasana.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cael tersenyum, ikut bergurau, \u201cAtau jangan-jangan\u2026 abis putus sama pacarnya, nih?\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Leonel menimpali dengan tawa kecil, \u201cBisa jadi. Wajahnya kayak habis ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun, alih-alih tertawa bersama, Rayden tiba-tiba menutup laptopnya dengan keras. Wajahnya tampak tegang dan tanpa ekspresi. Ia berdiri, lalu berjalan keluar tanpa sepatah kata pun.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Zavira refleks berdiri, lalu mengejarnya. \u201cAku kejar dia,\u201d katanya cepat.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rayden berjalan cepat menyusuri lorong kantor, tetapi suara langkah Zavira menyusulnya. Rayden menoleh, wajahnya kesal.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cZavira! Kamu ngapain ngikut aku?\u201d tanyanya tajam.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Zavira berdiri tegak di hadapannya, tak gentar.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cAku yang harusnya nanya! Kamu kenapa berubah? Kenapa diem dan nutupin semuanya? Kita ini sahabat, Ray.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rayden menghela napas, lalu menatapnya lama.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cKamu nggak ngerti, Vir. Kalian semua nggak akan ngerti. Jadi, tolong\u2026 jangan ikut campur.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Zavira menggelengkan kepala pelan, matanya mulai berkaca-kaca.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cAku ngerti kamu takut. Tapi kamu nggak sendirian. Jangan dorong kami pergi, Ray.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rayden terdiam sesaat, lalu berkata lirih, \u201cKalian nggak tahu apa-apa\u2026 dan kalau tahu pun, kalian tidak ada gunanya.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu, ia berbalik dan pergi, meninggalkan Zavira yang berdiri sendiri di lorong yang sepi. Sementara itu, pertanyaan besar masih menggantung di udara.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jam pulang kerja akhirnya tiba. Suasana kantor mulai lengang. Cahaya senja menyusup masuk melalui celah jendela, membiaskan warna jingga ke seluruh ruangan. Cael yang hendak pulang melihat sosok Rayden duduk sendiri di taman belakang kantor. Ia masih mengenakan jas kerjanya, menatap kosong ke layar laptop yang menyala redup di pangkuannya. Dengan langkah pelan, Cael menghampirinya.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cRayden,\u201d sapa Cael lembut. \u201cKamu belum pulang? Udah malam, lho.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rayden hanya mengangguk pelan, tidak menoleh.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena Rayden tak kunjung bicara, Cael memilih pulang. Keesokan harinya, ketika Cael tiba di kantor dan menyapa teman-temanya, tidak ada satu pun yang merespons. Mereka semua terpapar fokus pada layar ponsel masing-masing. Wajah-wajah berlaka.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cael kemudian mendekati Zavira, mencoba mencari tahu.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cZav, kenapa sih mereka diem banget? Ada apa?\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Zavira mengangkat wajahnya, lalu menjawab dengan pelan tapi tegas. \u201cLagi heboh, Cael\u2026 ada kasus \u2018Fantasi Sedarah\u2019 yang lagi viral.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cael mengernyit bingung. \u201c\u2019Fantasi Sedarah\u2019?\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aline yang duduk tidak jauh dari mereka menjawab, \u201cItu\u2026 orang-orang yang melakukan hubungan badan dengan keluarga sedarah mereka sendiri. Gila banget.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cYa Tuhan\u2026\u201d ujar Cael.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Zavira menggeleng sambil menggenggam tangan, \u201cMereka tidak punya otak, tidak punya hati.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aline menambahkan dengan nada geram. \u201cNggak masuk akal. Masih ada aja orang yang tega kayak gitu. Kok bisa-bisanya.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cael lalu bertanya. \u201cKorban-korbannya gimana? Kasusnya sudah ditangani polisi atau belum?\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Leonel menjawab, \u201cKorbannya anak-anak, Cael. Kebanyakan di bawah umur. Parah banget. Pelakunya sih udah nggak punya urat malu.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cael spontan menyarankan, \u201cGimana kalau kita viralkan saja grup itu? Biar makin ramai dan makin banyak yang sadar, para aparat juga bisa bergerak cepat.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Leonel setuju, \u201cIya! Kita laporkan semua akun yang terlibat. Ini sudah masuk ke ranah hukum pidana, dari kekerasan seksual, pornografi, sampai eksploitasi anak.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kemudian, Rayden ikut bicara. \u201cTapi, jangan hanya lapor ke pihak berwajib. Gimana kalau kita viralkan dulu? Kita pakai tagar #PeduliAnak atau semcamnya. Biar orang-orang semakin sadar.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Zavira tampak ragu. \u201cHmm\u2026 kalau langsung dilaporin bisa-bisa buktinya menghilang. Mending viralin dulu, ikutin saran Rayden.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Akhirnya, mereka sepakat. Hari itu juga, masing-masing membuat unggahan di media sosial mereka. Beberapa hari kemudian, mereka berkumpul di ruang istirahat kantor. Kasus yang sebelumnya mereka viralkan meledak di media. Para pelaku mulai ditangkap. Di layar televisi, seorang pembawa berita menyebutkan bahwa sebagian dari mereka dijatuhi hukuman 16 tahun penjara dan denda hingga enam miliar rupiah.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rayden menggeleng pelan. \u201cDenda enam miliar masih kurang, sih. Negara pikir, pelaku cuma nyolong pulsa kali.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aline ikut bersuara, nadanya tajam. \u201cDenda enam miliar? Itu kalau dibayar. Yang ada cuma nambah angka fiktif buat pencitraan. Seperempat utang negara aja nggak keangkat, Bang.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cael menyandarkan kepalanya, gumamnya dingin. \u201cAnak-anak itu harusnya dilindungi, diberikan kasih sayang yang layak, dan dijaga mentalnya. Bukan malah dieksploitasi dan direndahkan harga dirinya.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Zavira menggenggam tangan erat di atas pangkuan. \u201cTapi di negara ini, perlindungan anak baru serius ditangani kalau sudah viral. Sebelum itu, tutup mata, tutup kuping.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rayden menatap keluar jendela. Hujan mulai turun pelan.<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cGue kadang mikir, mungkin pelaku juga pernah jadi korban.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aline menunduk, matanya memerah. \u201cBayangin trauma mereka\u2026 tidur takut, tersentuh jijik.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cael menarik napas panjang, lalu berkata pelan namun tegas, \u201cMereka bukan hanya kehilangan masa kecil\u2026 mereka kehilangan rasa aman juga.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Leonel berdiri dan menampar meja ringan. \u201cMakanya, kita harus terus viralkan. Jangan cuma sekali lalu hilang. Kita bukan pahlawan, tapi kita juga tidak mau jadi penonton yang hanya diam saja.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Zavira tersenyum getir, \u201cKalau sistem tidak bisa diputar, maka suara harus menjadi senjata.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setelah perbincangan yang menyayat hati itu, mereka kembali bekerja dan melanjutkan aktivitas seperti semula.<\/p>\n<p><br><\/p>\n<p style=\"text-align: center; line-height: normal; tab-stops: 1.0cm 297.95pt;\" align=\"center\"><b>SELESAI<\/b><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-78fb1eb elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"78fb1eb\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-957b8b7\" data-id=\"957b8b7\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-81243c2 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"81243c2\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Penulis\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 : Amrika Dealita &#8211; Divisi Menulis Kreatif<\/p><p>Thumbnail\u00a0 : Milany Dwi &#8211; Divisi Desain<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wajah-wajah Tanpa Nama Karya : Amrika Dealita &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;Hujan deras menyapa pagi dengan angin dingin yang menusuk, diiringi gemuruh langit yang riuh, seperti gema dari otak yang terus dipaksa berpikir dan bekerja tanpa henti. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan, sudah saatnya untuk berangkat ke kantor. Tempat yang ramai, menyimpan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":2054,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[33,7],"tags":[26,25],"class_list":["post-2053","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen","category-sastra","tag-cerpen","tag-pers-edukasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2053","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2053"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2053\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2143,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2053\/revisions\/2143"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2054"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2053"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2053"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2053"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}