{"id":2418,"date":"2026-03-13T12:20:18","date_gmt":"2026-03-13T05:20:18","guid":{"rendered":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/?p=2418"},"modified":"2026-03-13T12:25:01","modified_gmt":"2026-03-13T05:25:01","slug":"pelukan-terakhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/?p=2418","title":{"rendered":"Pelukan Terakhir"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Oleh: Sastia Aulia Aryani<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Mataku menatap sebuah hamparan sawah yang tertata rapi, hijaunya padi itu menyapa diriku dengan penuh keteduhan. Mereka menari indah saat angin mendekatinya. Hujan kala itu membasahi tanah berbatu di desa ini, hujan itu tidak membuat rasa bahagiaku luntur. Langit yang gelap itu menjadi saksi bahwa diriku ini tengah bahagia, bahagia akan nikmat Tuhan. Aku membuka pintu kayu tua itu dengan penuh hati-hati, lampu belum menyala sama sekali, tiada siapapun berada di ruangan tersebut. Mereka masih tertidur pulas di kamar mereka masing-masing, suara jangkrik mampu menjadi teman tidur mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Tubuhku ku jatuhkan di sebuah kursi kayu tua yang berada di ruang tamu, mencoba untuk melemaskan tubuh ini dengan santai. Perjalanan jauh membuatku lelah. Namun, ini tidak membuat menyesal, demi membahagiakan mereka aku rela pergi jauh untuk mencari pundi-pundi rupiah. Senyum yang merekah kala diri ini membawa banyak hadiah, membuat diriku bahagia dan bersyukur telah diberi umur panjang untuk membahagiakan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Terutama ibu. Senyum teduh itu mampu membuatku semangat. Semua kesabaran, keikhlasan, dan keteduhannya mampu membuatku belajar akan berartinya hidup. Keikhlasannya setelah ditinggal bapak selama-lamanya selalu terpancar, keikhlasan itu membuatnya tabah dan tetap semangat menjalani hidup. Kesabarannya merawat aku dan adikku membuatku harus membalas jasa-jasanya, ibu tak pernah sekalipun benci akan kami, beliau merawat kami dengan penuh keikhlasan. Keteduhan hatinya membuat ibu selalu tersenyum dan tutur bicara lembut, beliau jarang marah, sabarnya melewati batas maksimal. Itu yang membuat tidak bisa jauh dari beliau.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Kriekk..<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pintu kamar terbuka. Mata sembab khas bangun tidur itu datang dengan wajah kantuknya. Tangan lemah itu sibuk mengikat rambut putihnya sampai akhirnya mata rabunnya menatap diriku lama sekali, dan langkah kakinya bergerak maju menghampiriku. Lengannya terbuka lebar memeluk, pelukan yang hangat membuatku ingin menangis, pelukan yang jarang sekali aku rasakan. Telapak tangan yang kasar itu mengelus punggungku dengan halus sambil menanyakan kabarku, menembak berbagai macam pertanyaan kepada diriku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagaimana kabarmu nak? Sampai di sini jam berapa? Kenapa tidak membangunkan ibu?\u201d aku tersenyum, sifatnya masih sama, semua itu masih ada di dalam dirinya. \u201cBaik ibu. Aku tidak tega harus membangunkan ibu. Ibu terlihat sangat pulas saat tertidur.\u201d Ibu mengangguk mendengarkan penjelasanku. Kemudian beliau berdiri menyuruhku untuk segera istirahat, tubuh ringkih itu kemudian pergi untuk melaksanakan ibadah.<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi telah datang menyambutku, rintiknya hujan masih sama derasnya. Mataku terbuka kala suara bising menyuara di depan halaman rumah kami. Teriakan, kepanikan, dan tangis terdengar di telingaku. Segera aku bangun dari tempat tidurku. Mataku membelalak kala telapak kakiku menyentuh lantai yang kini sudah di genangi air. Aku melihat adikku yang tangannya bergetar tak karuan, tubuhnya sudah mengenakan seragam sekolah, namun niatnya ia urungkan. Ibu nampak sangat tenang dan mencoba untuk tidak panik, tapi rasa panik itu masih terlihat di dalam dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tangan ini masih menggenggam kedua tangan tanggung jawabku. Tangan mereka dingin dan bergetar tidak karuan. Tinggi air semakin lama semakin naik, hujan masih turun tak mau ampun, banyak bayi yang terpaksa di masukkan ke dalam ember untuk melindunginya dari banjir ataupun hujan. Hati sakit melihat ini semua, aku tak kuasa melihat kampung halamanku, tubuhku lemas dan pandangan menjadi kabur, pikiranku melayang-layang, dan seketika tubuhku runtuh jatuh ke bawah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Bip Bip Bip<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hawa dingin menyapaku dengan tenang. Suasana terasa dingin dan sesak, kemalangan ini menjadikanku seseorang yang mampu bertahan. Mataku memandang sekitar, terlihat adikku terkejut melihatku sadarkan diri, ia berlari menghampiri seseorang, entah itu ibu atau bukan ibu. Wanita memakai jas putih itu menghampiriku. Apakah hujan telah reda? Banjir telah hilang? Bagaimana bisa aku berada di rumah sakit? Ibu kemana? Banyak pertanyaan di dalam benakku. Kepalaku masih pusing, dokter muda itu bilang jika anxietysku kambuh dan juga aku sempat pingsan. Aku tidak ingat apa-apa, pikiranku pecah, linglung, dan seperti ada yang kosong. Adikku duduk diam termenung di sana, menatap kakinya yang tergenang air banjir.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDisa.\u201d Aku memanggilnya dengan tenang, ia mendongak dengan raut wajah yang tidak bisa aku artikan. \u201cKemana ibu?\u201d tanyaku, pertanyaan itu membuat Disa kaget, ia menatapku lama sebelum menjawab. Ia berdiri dan berjalan ke arahku. Seketika duniaku hancur.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIbu meninggal mbak.\u201d Kalimat itu nampak tenang, namun ada emosi di hatinya. Aku terdiam, mencerna apa yang telah terjadi, apa yang telah aku lewatkan? Apa yang membuatnya pergi secara tiba-tiba? Apa yang sebenarnya terjadi?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidak mungkin..\u201d suaraku lirih, hampir tidak terdengar, telingaku terdengar suara dengungan. \u201cTadi malam aku masih bertemu ibu.\u201d Gumamku yang masih tidak percaya dengan ini semua.<\/p>\n\n\n\n<p>Disa menatapku, matanya merah dan sembab, itu bukan karena tangis tapi air mata yang telah habis ia kuras, air mata itu telah habis menyisakan panas dan rasa yang tak nyaman. Disa menundukkan kepalanya menatapku dan berkata, \u201cIbu sudah meninggal sejak 2 hari yang lalu.\u201d Duniaku serasa jatuh, aku menatap Disa tak percaya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBanjir bandang itu tiba tanpa aba-aba, banjir itu datang secara tiba-tiba. Waktu mbak masih dalam perjalanan, banjir naik sangat cepat membuat arus yang deras. Ibu memaksaku untuk pergi ke rumah pak lurah, aku sempat menolak tapi ibu tetap memaksa sampai beliau menangis memohon aku untuk ke rumah pak lurah terlebih dahulu.\u201d Disa tertunduk, ia sesak sekali saat menceritakan kejadian itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Disa mengusap air matanya yang keluar setitik, kemudian ia melanjutkan ceritanya \u201cSaat aku sudah di sana, ibu berusaha melawan arus itu dengan tali yang di buat, tapi&#8230; tubuh itu terlalu lemah, ibu tidak kuat menahan cengkraman di tali itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dAku menatap Disa marah, hatiku tidak terima ia meninggalkan ibu sendirian, \u201cKenapa kau meninggalkan ibu?! Bagaimana bisa!!!\u201d aku berteriak melampiaskan emosiku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu kira aku tidak menyesal? Aku yang ada di tempat kejadian itu! Aku yang mengalaminya! Kenapa kamu malah menyalahkan aku?!\u201d Nafas Disa tersenggal-senggal menatapku dengan amarah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berdiri lalu mendekat kepadaku dan berkata \u201cDaripada kamu, hanya tahu menyalahkan! Sudah disuruh ibu pulang karena ada banjir, malah sibuk sama pekerjaanmu.\u201d Kalimatnya tenang namun tegas sampai membuatku terdiam.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Benar apa yang telah dia katakan. Aku malah sibuk dengan pekerjaanku sampai-sampai ibu aku nomor duakan. Aku mengusap wajahku kasar. Dadaku terasa sesak, bukan hanya karena kehilangan, tetapi juga karena rasa bersalah yang secara perlahan menekan hatiku.<\/p>\n\n\n\n<p>Ruangan itu mendadak pengap dan aku merasakan jika ruangan ini sunyi walaupun  ada suara isak tangis keluarga yang terdampak bencana. Puskesmas ini juga menjadi tempat pengungsian dan tempat pengobatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menurunkan egoku untuk menghampiri Disa. Mencoba meminta maaf atas kesalahanku. Aku tahu, aku memang tidak berada di tempat kejadian dan aku tidak tahu bagaimana kondisi yang telah mereka rasakan. Aku melihat punggung kecil itu, pemiliknya selalu memancarkan aura keceriaan, tapi sekarang ia terduduk lesu tanpa ada sedikit sinar keceriaannya. Ku akui aku salah.<\/p>\n\n\n\n<p>Disa juga bercerita bahwa ibu pernah bilang saat aku sudah dalam perjalanan, ibu mengatakan bahwa \u201cAku ingin sekali memeluk mbak Hana. Ibu rindu, mbak Hana jadi jarang pulang karena beban pekerjaannya bertambah berat. Ibu ingin memeluk mbak Hana untuk sekedar melepas penatnya sejenak. Kasian dia, harus merantau jauh. Jangan sering-sering berantem dengan mbak Hana ya? Disa akan tahu suatu saat jika Disa akan berada di posisi dewasa seperti mbak Hana.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tiba-tiba ingatanku kembali muncul di kepala. Saat ibuku memelukku sangat lama, lebih lama dari biasanya. Pada saat itu juga air mataku kembali jatuh tak tertahankan. Mungkin&#8230; ibu benar-benar pulang, hanya untuk menepati janjinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis : Sastia Aulia Aryani &#8211; Divisi Riset &amp; Data<\/p>\n\n\n\n<p>Desain : Milany Dwi &#8211; Kepala Divisi Desain<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sastia Aulia Aryani Mataku menatap sebuah hamparan sawah yang tertata rapi, hijaunya padi itu menyapa diriku dengan penuh keteduhan. Mereka menari indah saat angin mendekatinya. Hujan kala itu membasahi tanah berbatu di desa ini, hujan itu tidak membuat rasa bahagiaku luntur. Langit yang gelap itu menjadi saksi bahwa diriku ini tengah bahagia, bahagia akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":2422,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[26,25,40],"class_list":["post-2418","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tak-berkategori","tag-cerpen","tag-pers-edukasi","tag-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2418","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2418"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2418\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2419,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2418\/revisions\/2419"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2422"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2418"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2418"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/persedukasiunipma.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2418"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}