Bangladesh sekali lagi diguncang oleh protes masif setelah seorang anak berusia delapan tahun diperkosa dan meninggal dunia. Dilansir dari bbc.com (15/03/2025), seorang gadis berusia delapan tahun di Bangladesh, diperkosa saat mengunjungi rumah saudara perempuannya. Insiden tersebut terjadi di Magura antara malam tanggal 5 Maret dan pagi tanggal 6 Maret. Suami saudara perempuan korban yang berusia 18 tahun, bersama dengan anggota keluarganya, telah ditangkap terkait dengan kasus tersebut.

Gadis tersebut meninggal pada hari Kamis, 14 Maret 2025 sekitar pukul 13.00 (waktu setempat) setelah mengalami tiga serangan jantung dan dirawat selama enam hari di Rumah Sakit Militer Gabungan di Dhaka.  Menurut pernyataan dari departemen Inter-Services Public Relations (ISPR).

Setelah kematiannya, ribuan orang berkumpul untuk salat jenazahnya di Magura. Masyarakat menuntut keadilan dan reformasi hukum mengenai keselamatan perempuan dan anak-anak, efek dari hal tersebut, massa yang marah membakar rumah tempat penyerangan tersebut diduga terjadi. Para demonstran menyerukan keadilan bagi korban penyerangan seksual dan kejelasan dari definisi hukum tentang apa yang dianggap sebagai pemerkosaan di Bangladesh, yang menurut mereka saat ini masih ambigu.

Sidang untuk kasus tersebut diperkirakan akan dimulai dalam waktu seminggu, dengan bukti DNA yang telah dikumpulkan. Pemerkosaan anak di bawah umur dapat dihukum mati di Bangladesh, sesuai dengan undang-undang yang disahkan pada tahun 2020. Menurut statistik dari Pusat Hukum dan Arbitrase, 3.438 kasus pemerkosaan anak telah diajukan di Bangladesh dalam delapan tahun terakhir, setidaknya 539 di antaranya berusia di bawah enam tahun dan 933 berusia antara tujuh dan dua belas tahun.

Penelitian menunjukkan bahwa dalam kebanyakan kasus, anak-anak dilecehkan secara seksual atau diperkosa oleh orang yang mereka kenal. Laporan menunjukkan bahwa pemerkosaan anak tetap menjadi masalah serius di Bangladesh, dengan ribuan kasus dilaporkan selama beberapa tahun terakhir. Aktivis mendesak perlindungan yang lebih kuat dan kejelasan hukum untuk memerangi krisis yang sedang berlangsung ini.

Penulis : Andrian – Divisi Reporter

Foto : Divisi Fotografi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *