Madiun – Sebuah forum diskusi lintas generasi dan lintas profesi digelar oleh Garda TV Madiun bertajuk Program Forum Bhinneka Tunggal Ika pada Rabu, 13 Mei 2026, mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai. Bertempat di Banyu Mily Fishing & Resto, Ngrayung, Mojopurno, Kec. Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, forum ini mengangkat tema Kebangkitan Nasional dengan subtema “Memaknai Kebangkitan Nasional dalam Menghadapi Tantangan Global”. Kegiatan ini mengundang berbagai tokoh dari lintas agama, akademisi, media, dan mahasiswa untuk bersama-sama merefleksikan nilai kebangsaan di tengah perkembangan zaman.

Nopali Wahyu Hidayat, salah satu penggagas Forum Kebhinekaan Tunggal Ika, mengungkapkan bahwa forum ini lahir dari keprihatinan terhadap menurunnya nilai budaya dan nasionalisme di kalangan generasi muda.
“Forum ini melibatkan tokoh lintas agama, mahasiswa, media, dan berbagai profesi lainnya. Tema Kebangkitan Nasional dipilih karena bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional, sekaligus mengingatkan generasi muda bahwa kebangkitan bangsa Indonesia dimulai dari organisasi kepemudaan dan pendidikan seperti Budi Utomo,” ungkapnya.
Nopali juga menekankan peran penting media dalam menjaga semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Media memiliki peran penting untuk menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang saat ini sangat dekat dengan media sosial dan teknologi digital,” jelasnya.

Penulis, pendidik, dan sastrawan Filedsky Wali Tanjung memberikan pandangannya mengenai pentingnya forum ini bagi generasi muda. Menurutnya, acara ini menjadi ruang untuk mempertemukan lintas generasi, mulai dari generasi senior, milenial, hingga Gen Z.
“Diskusi seperti ini penting agar tidak terjadi keterputusan antargenerasi. Generasi muda membutuhkan inspirasi dan motivasi untuk menghadapi tantangan zaman melalui gagasan dan gerakan yang positif,” tuturnya.
Ia berharap forum serupa lebih sering digelar mengingat cepatnya perkembangan teknologi dan isu global saat ini.
“Diskusi seperti ini membantu generasi muda memperluas perspektif agar tidak mudah bingung maupun kehilangan arah dalam menghadapi masa depan,” tambahnya.
Dari sudut pandang keagamaan, pengasuh spiritual muslim Isa Ansori menekankan bahwa kekuatan spiritual merupakan pondasi utama dalam memaknai Kebangkitan Nasional.
“Yang paling penting adalah membangkitkan daya spiritual. Spiritual merupakan pusat kekuatan manusia. Jika spiritual seseorang kuat, maka daya intelektual dan emosionalnya juga akan meningkat,” ujarnya.
Isa juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar menjaga toleransi dengan berlandaskan pada spiritual yang kuat.
“Toleransi harus lahir dari spiritual yang baik. Anak muda perlu memperkuat spiritual sesuai agama dan keyakinan masing-masing agar mampu menghargai sesama dan menjaga persatuan bangsa,” pesannya.

Sementara itu, dosen Universitas PGRI Madiun (Unipma), Aris Wuryantoro, menyoroti relevansi Kebangkitan Nasional bagi dunia pendidikan di era disrupsi teknologi.
“Pendidikan harus mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi. Namun, pendidikan juga harus tetap berlandaskan budaya bangsa agar Indonesia memiliki jati diri yang kuat untuk bersaing secara global,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan fungsi forum ini sebagai ruang berbagi pengalaman antargenerasi.
“Forum ini menjadi ruang bagi generasi senior untuk memberikan pandangan dan pengalaman kepada generasi muda mengenai cara mengisi semangat Kebangkitan Nasional sesuai tantangan zaman saat ini,” ujarnya.
Aris berharap forum ini dapat mendorong generasi muda untuk berkembang tanpa melupakan akar budaya bangsa.
“Harapannya, generasi muda mampu mengikuti perkembangan global tanpa meninggalkan budaya luhur bangsa Indonesia,” tutupnya.
Melalui Forum Kebhinekaan Tunggal Ika ini, seluruh peserta diharapkan mampu membawa pesan-pesan kebangsaan ke lingkungan sekitar mereka, mulai dari keluarga hingga masyarakat luas. Forum ini menegaskan bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan nilai hidup yang harus terus dijaga dan diwariskan oleh setiap generasi.
Penulis : Sinta Fitria Ernanti – Divisi Reporter, Bidang Redaksi
Foto : Vino Akhtar Anugerah Ramadhan – Divisi Sinematografi, Bidang Redaksi
