Oleh: Vitiara Anggita Melati
Anya menyesap es kopi susunya yang mulai mencair di Kafe Dialektika. Di luar, langit Jakarta tampak abu-abu pekat oleh polusi. Di seberang jalan, sebuah spanduk besar baru saja dipasang: “Sosialisasi RUU: Menuju Keamanan Sipil yang Humanis dan Visioner.”
Di hadapannya, Bram sibuk mencorat-coret draf skripsinya yang sudah tiga kali ditolak dosen karena kurang novelty.
”Bram, tahu cara paling cepat keliling dunia gratis ke seratus negara?” tanya Anya tiba-tiba, memutar tabletnya ke arah Bram. Di layarnya, terpampang berita viral: Manipulasi Riset Medis Berbasis AI Terbongkar di Forum Global Denmark. Pelakunya merekayasa puluhan riset palsu demi liburan gratis.
”Gila,” gumam Bram getir. “Kita menangis darah demi validitas kuesioner lima puluh responden, dia bisa menaklukkan dunia dengan sekali klik ‘generate prompt’. Sains di negeri ini bukan soal menemukan obat, melainkan mendesain ilusi untuk membohongi orang Eropa.”
”Dunia akademik kita sudah jadi panggung sulap,” sahut Anya sinis. “Yang jujur tertatih-tatih mencari dana, yang lancung pamer foto estetik di Instagram.”
Bram menyandarkan punggung, lalu menunjuk spanduk di seberang jalan dengan dagunya. “Tapi Anya, sulap kampus itu skala kecil. Lihat di sana, itu sulap tingkat dewa yang sedang dimasak di parlemen.”
Anya mendengus. “Ah, perluasan wilayah kekuasaan para Penjaga Gerbang. RUU yang itu, kan?”
”Tepat. Para penjaga yang harusnya menghalau pencuri di malam hari, kini ingin duduk di kursi kepala perpustakaan, dinas pertanian, tata kota. Semuanya tanpa perlu melepas baju zirah dan pentungan besi mereka.”
”Bukannya itu tumpang-tindih?” dahi Anya berkerut. “Lalu apa gunanya kita kuliah kebijakan publik kalau kursi itu diisi bapak-bapak berkumis tebal yang biasa memegang borgol?”
”Katanya demi efisiensi,” jawab Bram teatrikal. “Masa pensiun mereka diundur agar para sesepuh zirah itu bisa terus mengabdi sampai rambut memutih, menduduki jabatan yang harusnya jadi pelabuhan lulusan baru seperti kita.”
Anya tertawa kecil, menahan marah. “Romantis sekali, ya. Kita disuruh berkompetisi di pasar kerja yang sempit, sementara mereka membuat karpet merah sendiri. Supremasi sipil yang diperjuangkan dengan darah tahun sembilan delapan, perlahan diganti supremasi seragam yang disahkan di bawah AC dingin.”
Suara bising knalpot menyelinap masuk kafe. Di pojok ruangan, mahasiswa lain sibuk menatap layar ponsel, tak sadar masa depan mereka sedang dibatasi oleh kebijakan dari gedung-gedung tinggi berpagar kawat duri.
”Jadi, apa rencana kita setelah lulus?” tanya Anya. “Membuat riset fiktif pakai AI agar bisa kabur, atau mendaftar jadi bagian dari keluarga Penjaga Gerbang?”
Bram memasukkan skripsinya ke dalam tas, lalu menatap Anya dengan senyum tipis. “Aku memilih opsi ketiga, Anya.”
”Apa itu?”
”Tetap di sini, menulis skripsi yang jujur, dan memastikan suara kita tidak ikut pensiun. Jika mereka yang berseragam sudah mengambil alih semua meja, maka meja di kafe seperti ini adalah benteng terakhir tempat akal sehat kita bisa tetap merdeka.”
Anya tersenyum, menyesap sisa kopinya yang telah dingin. Di luar, senja Jakarta membawa bayang-bayang zirah yang kian panjang, namun di dalam kafe, api kecil di kepala mereka masih menolak padam.
