Rupiah terus melemah secara signifikan. Baru-baru ini, nilai tukar rupiah hampir menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini menjadi kabar yang membuat banyak orang khawatir. Harga bahan bakar naik tajam, barang-barang impor menjadi lebih mahal, dan daya beli masyarakat semakin menurun. Saya berpendapat bahwa pelemahan rupiah ini bukanlah fluktuasi biasa yang dapat dianggap enteng. Jika tidak segera ditangani dengan langkah yang tepat, cita-cita besar Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai karena beban ekonomi yang dirasakan rakyat kecil semakin berat dari hari ke hari.
Inti permasalahannya cukup sederhana. Pemerintah sedang menjalankan berbagai program ambisius, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan mengatasi stunting pada anak-anak. Tujuan program ini memang mulia, yaitu menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat dan cerdas. Namun, biaya yang dibutuhkan sangat besar dan berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Di sisi lain, tekanan dari luar negeri, seperti tingginya harga minyak dunia, konflik geopolitik, dan menguatnya dolar AS, turut memperberat kondisi ekonomi nasional. Akibatnya, rupiah terus tertekan, inflasi mulai meningkat, dan harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, serta susu ikut melonjak. Masyarakat biasa menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Seorang ibu rumah tangga di pasar tradisional, misalnya, kini harus berpikir dua kali sebelum membeli kebutuhan sehari-hari.
Banyak pihak membela kebijakan pemerintah. Mereka berpendapat bahwa pelemahan rupiah hanya bersifat sementara dan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 masih menunjukkan angka positif, bahkan termasuk yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20. Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah dapat memberikan keuntungan bagi eksportir karena produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional.
Argumen tersebut memang meimiliki dasar yang kuat. Namun, bagi sebagian besar masyarakat yang bukan pelaku ekspor, dampaknya justru lebih banyak dirasakan dalam bentuk kesulitan ekonomi. Pengusaha kecil, seperti pedagang tempe, pemilik warung makan, atau bengkel motor, menghadapi kenaikan harga bahan baku yang sebagian masih bergantung pada impor. Biaya produksi meningkat, harga jual terpaksa dinaikkan, dan pada akhirnya konsumen yang menanggung beban tersebut. Munculnya berbagai aksi mahasiswa dengan slogan “Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat” menunjukkan bahwa keresahan terhadap kondisi ekonomi telah meluas hingga ke kalangan generasi muda yang peduli terhadap masa depan bangsa.
Ada pula yang menganggap kritik terhadap pelemahan rupiah terlalu pesimistis atau bahkan berlebihan. Mereka berpendapat bahwa Indonesia pernah menghadapi situasi yang lebih berat, seperti krisis ekonomi tahun 1998 maupun masa pandemi, dan tetap mampu bangkit. Pernyataan tersebut memang benar. Bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Namun, situasi saat ini memiliki karakteristik yang berbeda. Berbagai program besar dijalankan secara bersamaan sehingga ruang fiskal negara menjadi semakin sempit. Jika defisit APBN terus membengkak dan cadangan devisa terus digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah, kemampuan pemerintah dalam membiayai sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur dapat menjadi terbatas. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi antara kelompok masyarakat kaya dan miskin.
Rupiah yang kuat dan stabil merupakan fondasi penting bagi perekonomian nasional. Dengan stabilitas nilai tukar, masyarakat dapat menjalankan aktivitas ekonomi dengan lebih tenang, pelaku usaha dapat merencanakan investasi secara lebih pasti, dan keluarga dapat menyusun masa depan dengan lebih baik. Tanpa fondasi tersebut, berbagai ambisi pembangunan berisiko berubah menjadi beban tambahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Solusi yang dapat dilakukan sebenarnya cukup realistis apabila terdapat kemauan politik yang kuat.
Pertama, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program-program besar, termasuk MBG. Pemborosan anggaran harus ditekan, transparasi ditingkatkan, dan pelaksanaan program diprioritaskan pada daerah-daerah dengan tingkat stunting tertinggi.
Kedua, pemerintah perlu mendorong penguatan produksi dalam negeri secara lebih serius melalui pemberian insentif pajak, kemudian perizinan, dan dukungan bagi industri nasional agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.
Ketiga, bantuan langsung yang tepat sasaran perlu diberikan kepada UMKM dan keluarga miskin agar mereka mampu bertahan di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
Keempat, pemerintah harus meningkatkan transparansi serta memperkuat komunikasi publik agar tidak muncul kepanikan yang berlebihan di masyarakat maupun di pasar keuangan.
Tanpa langkah-langkah yang cepat dan konkret, pelemahan rupiah berpotensi menciptakan lingkaran masalah yang sulit diputus. Inflasi akan terus meningkat, daya beli masyarakat semakin menurun, investor asing menjadi lebih berhati-hati, dan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya melambat. Generasi muda yang seharusnya menjadi motor penggerak Indonesia Emas 2045 justru dapat kehilangan optimisme terhadap masa depan.
Pada akhirnya, ekonomi yang sehat tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan atau besarnya proyek pembangunan yang berdiri megah. Ekonomi yang baik adalah ekonomi yang mampu memastikan rakyat dapat memenuhi kebutuhan pangan dengan layak, anak-anak dapat bersekolah dengan tenang, dan para orang tua dapat bekerja serta berusaha tanpa dibayangi ketakutan akan kenaikan harga yang terus-menerus.
Jika rupiah terus melemah tanpa penanganan yang serius, ambisi Indonesia Emas 2045 berisiko menjadi impian yang semakin jauh dari kenyataan yang dihadapi rakyat sehari-hari.
Saatnya menentukan pilihan. Apakah kita menginginkan rupiah yang stabil demi kesejahteraan seluruh rakyat, atau membiarkannya terus melemah dan semakin membebani kehidupan masyarakat kecil? Keputusan yang diambil hari ini akan sangat menentukan apakah masa depan Indonesia menjadi lebih cerah atau justru dipenuhi tantangan yang semakin berat. Oleh karena itu, mari mendorong perubahan yang lebih baik demi kesejahteraan generasi mendatang.
Penulis : Sastia Aulia Aryani – Divisi Riset dan Data
Foto : Dora Marselina – Divisi Fotografi
