Layar lebar tanah air tentu menyajikan drama-drama terbaru dan tentunya dari hari ke hari tidak kalah menarik dengan sebelumnya. Salah satunya Buya Hamka. Mereka tidak ragu mengeluarkan biaya produksi fantastis, yang konon mencapai puluhan miliar. Gelontoran dana mega besar itu pun langsung terlihat dari production value yang jauh dari kata murahan.
Pilihan lokasi hingga desain set film ini diatur sedemikian rupa agar dapat menggambarkan kisah dengan latar waktu era 1940-an. Kostum para karakter juga tidak terlihat terlalu modern atau kuno, sehingga memperkuat aspek visual.
Selain pada aspek latar tersebut, tokohnya sendiri pun dapat membangun karakter yang kuat sesuai dengan karakter aslinya. Sehingga vibes yang dirasakan oleh penonton, seperti melihat pada kejadian di waktu tersebut.
Di balik film yang sebenarnya memiliki banyak pesan tersirat di dalamnya, hanya karena kemasan ceritanya seolah terasa tergesa-gesa karena harus mencakup berbagai jejak sejarah sang cendekiawan. Imbasnya, tidak ada kesan mendalam terhadap peristiwa-peristiwa penting yang dialami Buya Hamka. Sehingga sebagian para penonton yang sudah menikmati film tersebut merasa bahwa feel-nya kurang.
Padahal jika dilihat, film tersebut sudah cukup proporsional dalam mengadaptasi kisah hidup Buya Hamka, sehingga tidak terkesan hiperbola. Perjalanan Buya Hamka kemudian baru memikat secara emosi menjelang sepertiga akhir film, ketika sudah tidak ada banyak time jump dari satu momen ke momen lainnya.
Namun, jika menelaah lebih dalam, sebenarnya film ini memiliki sisi yang amat menyentuh. Salah satunya pada sceen di mana ketika seorang Buya Hamka rela meninggalkan anak isterinya demi memperbaiki perekonomiannya. Sosok Buya Hamka tidak jauh dari kata ‘pengajaran islam’ dalam proses pengajaran terhadap generasi muda.
Bahkan, perjalanannya tidak semulus itu. Seorang sastrawan kelahiran 1908 ini menjadi bahan olokan masyarakat Indonesia. Buya Hamka dicap sebagai pengkhianat hingga menikmati keuntungan dikelilingi perempuan hingga penjilat penjajah.
Dengan durasi film selama 106 menit tersebut, film ini termasuk film yang padat pada alurnya. Sehingga, hal-hal detail masih dipertanyakan bagi para penonton. Akan tetapi, film yang termasuk drama biografi ini bisa dibilang sukses menoreh kenangan di hati penonton, dengan menyajikan alur ceritanya yang religius dan penuh perjuangan.
